Di dalam pelaksanaan rencana kekal Allah, Musa adalah hamba pertama yang memenuhi kualifikasi secara penuh, dan cara Allah mempersiapkan serta memanggil Musa menjadi standar bagi pemanggilan semua hamba-Nya di sepanjang zaman.
Kisah hidup Musa berakar dari masa kelam penindasan bangsa Israel di Mesir. Keturunan Yakub yang awalnya berjumlah tujuh puluh jiwa telah berlipat ganda hingga memenuhi negeri Gosyen. Bangkitlah seorang raja baru di Mesir yang tidak mengenal Yusuf. Merasa terancam oleh jumlah mereka yang kian besar, Firaun memberlakukan kerja paksa yang kejam untuk mendirikan kota perbekalan Pitom dan Raamses (Kel. 1:8-11).
Namun makin ditindas, bangsa itu makin bertambah banyak. Firaun kemudian mengeluarkan perintah keji kepada para bidan Ibrani agar membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir, dan akhirnya menitahkan seluruh rakyatnya untuk melemparkan setiap anak laki-laki Ibrani ke dalam Sungai Nil (Kel. 1:15-22). Di tengah ancaman maut inilah Musa dilahirkan dari suku Lewi, putra dari Amram dan Yokhebed (Kel. 6:19).
Orang tua Musa menyembunyikannya selama tiga bulan dengan iman (Ibr. 11:23). Ketika tidak dapat disembunyikan lagi, ia ditaruh dalam peti pandan berperekat ter di tepi Sungai Nil. Melalui kedaulatan Allah, putri Firaun menemukan peti itu, menaruh belas kasihan, dan melalui perantaraan Miriam (kakak Musa), Yokhebed justru diupah untuk menyusui anaknya sendiri. Setelah besar, ia diserahkan ke istana dan diberi nama Musa (artinya: ditarik dari air).
Perjalanan hidup Musa sepanjang 120 tahun terbagi secara teratur ke dalam tiga periode empat puluh tahun:
| Periode | Lokasi & Status | Prinsip Pekerjaan Allah |
|---|---|---|
| 0 — 40 Tahun (Fase I) |
Istana Mesir Pangeran terpelajar, berkuasa dalam perkataan dan perbuatan. |
Kekuatan Alamiah: Menguasai segala hikmat Mesir, mengandalkan kekuatan diri untuk membela bangsanya. Berakhir dengan pembunuhan orang Mesir dan pelarian ke padang belantara. |
| 40 — 80 Tahun (Fase II) |
Padang Gurun Midian Gembala kawanan domba, terasing dan tidak dikenal. |
Pengakhiran Diri: Dikosongkan selama 40 tahun di padang gurun hingga seluruh kepercayaan diri, kefasihan lidah, dan ambisi alamiahnya terkikis habis. |
| 80 — 120 Tahun (Fase III) |
Padang Belantara Hamba Allah dan pemimpin bangsa Israel. |
Penyertaan Hidup Ilahi: Dipanggil di semak duri, melayani semata-mata dengan bersandar pada Allah sebagai bahan bakar dan otoritas. |
Kisah Para Rasul 7:22 mencatat bahwa Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Ia memiliki keunggulan fisik, kepemimpinan militer, intelektual tertinggi di zamannya, serta kesadaran batin bahwa ia adalah orang Ibrani yang dipanggil membela bangsanya.
Pada usia empat puluh tahun, Musa keluar melihat penindasan saudara-saudaranya. Menyaksikan seorang Mesir memukul seorang Ibrani, Musa bertindak menurut pertimbangan akal dan energinya sendiri: ia menoleh ke kanan dan ke kiri, membunuh orang Mesir itu, lalu menguburnya di dalam pasir (Kel. 2:11-12). Keesokan harinya, ketika ia mencoba melerai dua orang Ibrani yang bertengkar, ia justru ditolak mentah-mentah: "Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?" (Kel. 2:14).
Musa ketakutan karena tindakannya terbongkar. Firaun mencari nyawanya, dan sang pangeran terpelajar itu melarikan diri ke padang gurun Midian. Pelajaran mendalam dari fase ini: niat yang baik tidak dapat dikerjakan dengan kekuatan daging dan metode alamiah. Keberanian dan kekuatan alami manusia hanya berujung pada mayat yang terkubur di dalam pasir dan kepanikan.
Di Midian, Musa menikahi Zipora, putri Yitro, dan bekerja sebagai gembala kawanan domba mertuanya. Selama empat puluh tahun, mantan calon penguasa Mesir itu hidup dalam kesunyian padang belantara bersama kawanan ternak yang bisu.
Empat puluh tahun di Midian melucuti kebanggaan Mesir, meredam ambisi kepemimpinan, dan mengikis kefasihan berbicaranya. Allah menahan Musa di padang gurun sampai seluruh kekuatan dirinya habis. Ketika usianya mencapai delapan puluh tahun dan ia memandang dirinya bukan lagi siapa-siapa, saat itulah Allah melangkah masuk untuk menemuinya.
Di Gunung Horeb, Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada Musa di dalam nyala api di tengah semak duri. Musa takjub melihat semak duri itu menyala oleh api, tetapi tidak dimakan oleh api (Kel. 3:2).
Penglihatan ini menyingkapkan rahasia mendasar mengenai pelayanan bagi Allah:
Pada usia 40 tahun, Musa mencoba membakar energinya sendiri untuk membebaskan bangsanya dan padam seketika. Pada usia 80 tahun, Musa belajar bahwa Allah hanya mencari bejana semak duri yang rela menjadi wadah bagi api-Nya.
Ketika Musa merasa dirinya sudah tidak sanggup dan berkata, "Siapakah aku ini, maka aku yang harus menghadap Firaun?" (Kel. 3:11), Allah memberikan tiga tanda peneguhan:
Tongkat gembala adalah sandaran hidup Musa, alat pencari nafkah, dan kemampuannya. Ketika dilemparkan ke tanah atas perintah Allah, tongkat itu berubah menjadi ular, dan Musa lari menghindarinya. Segala sesuatu yang kita sandarkan di luar Allah sesungguhnya adalah sarang si ular tua (Iblis). Namun ketika Musa menaati firman Allah dan memegang ekor ular itu, ular itu kembali menjadi tongkat di tangannya—kini menjadi tongkat otoritas Allah.
Musa diperintahkan memasukkan tangannya ke dalam dadanya. Ketika ditarik keluar, tangannya telah menjadi putih karena kusta. Setelah dimasukkan kembali ke dada dan dikeluarkan, tangan itu pulih. Dada melambangkan batin manusia, dan kusta melambangkan dosa serta kecemaran yang merusak. Tanda ini menyatakan bahwa daging manusia sejati adalah sarang kusta (Rm. 7:18), yang hanya dapat ditahirkan oleh kuasa pembersihan Tuhan.
Musa diperintahkan mencedok air Sungai Nil dan menuangkannya ke tanah kering, lalu air itu berubah menjadi darah. Sungai Nil adalah sumber kemakmuran dan kenikmatan hidup Mesir. Di hadapan Allah, seluruh pasokan dan kenikmatan duniawi yang terpisah dari Allah sesungguhnya adalah kematian.
Melalui tiga tanda ini, hamba yang dipanggil Allah ditundukkan secara tuntas: Iblis kehilangan pijakan (tongkat), daging dihakimi (kusta), dan dunia disingkapkan sebagai kematian belaka (darah).
Perjalanan hidup Musa sepanjang 120 tahun memperlihatkan hukum mutlak dalam pembentukan seorang hamba Allah: Allah tidak dapat menggunakan manusia yang masih penuh dengan kekuatan alamiahnya sendiri. Selama Musa masih menjadi "seseorang" yang cakap di Mesir, pelayanannya hanya mendatangkan kegagalan, pembunuhan, dan kuburan pasir. Tetapi setelah melewati empat puluh tahun pengakhiran diri di padang gurun Midian hingga menjadi "bukan siapa-siapa," barulah Allah menyatakan diri-Nya sebagai api di dalam semak duri.
Panggilan di Horeb menegaskan bahwa pelayanan sejati bukanlah mempersembahkan kehebatan diri sebagai bahan bakar bagi Allah, melainkan kerelaan manusia berdosa yang telah ditebus untuk menjadi semak duri yang menampung nyala api Allah. Dengan menundukkan sandaran hidupnya (tongkat), menghakimi dagingnya (kusta), dan menolak kenikmatan duniawi (air Nil jadi darah), Musa melangkah maju bukan lagi dengan kekuatan seorang pangeran Mesir, melainkan sebagai bejana yang dipenuhi oleh hadirat dan otoritas Allah yang hidup.